“Lapor pusat, ini tahun ke 28 aku berkelana di kehidupan angkasa luar mencari benda langit kosong tak berpenghuni untuk kutinggali selamanya” kumulai laporan hari ini. “Sesuai petunjukmu setahun yang lalu, aku masih mengorbit diseputaran tata surya, masih menanti mentari meredupkan cahaya yang membutakan itu dan menemukan jalan menujunya. Masih menunggu mendinginnya permukaan yang membara agar dapat ku daratkan pesawatku” laporan yang sama selalu terucap selama setahun ini.
Setahun yang lalu aku menerima pesan tersandi dari pusat, memang sulit untuk menterjemahkannya, walau aku tahu bahwa pesan tersebut disandi menggunakan algoritma Ilahi, tetapi aku tak tahu yang mana kuncinya. Ketika mencoba menganilisanya dengan teknik brute force attack, Aku berhasil mendapatkan sebuah pesan terbaca. Pesan itu seakan memerintahkanku untuk mendaratkan pesawat ini ke benda langit yang bernama mentari, tetapi kini aku ragu bahwa pesan terbaca itu adalah arti pesan tersandi yang sesungguhnya. Mungkin saja secara kebetulan aku menggunakan kunci yang salah, namun tetap mendapatkan pesan terbaca, dan mungkin seharusnya bukan mentari yang kutuju.
“Pusat, bisakah kau kirimkan kembali petunjuk kemana harus kudaratkan pesawat ini. Tetapi kumohon agar kau gunakan algoritma sandi yang lebih sederhana, karena lembar daftar kunci **untuk algoritma Ilahi** yang kau berikan sewaktu aku lepas landas telah rusak, tergerus usia, termakan panas ruangan penyimpanan yang mulai sesak dengan catatan-catatan kesombongan, keangkuhan dan kealphaanku melapor padamu.” Rajukku meminta bantuan sekali lagi. Akhir-akhir ini aku jarang menerima pesan dari pusat, hanya bunyi bising dispeaker dan deretan binary tak berarti dan tak berpola **Mungkin juga itu tersandi, tapi aku belum bisa membukanya sampai saat ini** yang tampil dalam layar hatiku.
“Baiklah pusat, sudah waktunya aku melaporkan kejadian-kejadian kali ini” Walau tidak sesering dulu, tapi aku masih selalu menyampaikan, mengadu ke pusat dan tetap meminta arahannya **Walau selalu speaker bising yang kuterima sebagai balasannya**. “Hari ini aku melihat sebuah benda langit, permukaannya tak terlalu rata **Bila dilihat dari jauh** mungkin akan sulit bagiku mendaratkan pesawat rombeng ini di sana. Benda itu tak bercahaya, mungkin akan sulit bagiku untuk mendekatinya bila tak dibantu sinar dari berjuta bintang lain. Tetapi sepertinya Rembulan **Begitu nama benda langit itu** bisa menjadi tempat ku memulai misi yang kau berikan, membuat sebuah koloni bangsa kita” kulaporkan semua kejadian yang kutemui beberapa hari **mungkin minggu** ini.
“Aku masih mengharapkan arahan, petunjuk dan saran darimu, sekecil apapun. Sampai saat itu, aku akan terus mengorbit di tata surya, sembari memperhatikan mentari dan mengamati rembulan. Berharap mentari meredupkan cahayanya atau rembulan mulai sedikit bersinar agar aku bisa menentukan arah jalan mendekati mereka. Aku akan terus mengorbit di tata surya, sembari mencari daratan datar di permukaan rembulan, atau lahan dingin pada mentari untuk tempat aku mendaratkan pesawat ini.”
Kini, ada mentari dan rembulan dicerahnya hariku, tetapi yang mana yang akan menjadi tempatku berkoloni?