Dibatasi Sajadah

Kulangkahkan kaki bersamamu kawan, bergandengan menghitung jarak rumah dan masjid. Berteman canda tawa dan gurau jenaka. Bersama-sama mengejar ridha-Nya, disaat sang bilal berteriak memanggil kita tuk segera tiba.

Bebaris kita menghadap kiblat, dibelakang imam mengikuti tiap geraknya. meluruskan badan menyamakan pijakan, tak pernah kenal kata melengkung, atau bengkok dalam barisan. Mecoba merapatkan badan sedekat mungkin menjaga keutuhan dari goda syaitan.

Tapi mengapa kawan kau menjauh, menyisakan sejengkal rongga diantara kaki kita. Ku coba terus paksa mendekatimu, seperti kala kita melangkah bersama. Tetapi kain yang kau bawa itu menjauhkan kita. Selembar sejadah dengan lebar 80cm itu menceraikan kita. Alat yang kau anggap sebagai bantuan memuja-Nya, telah memisahkanmu dariku….

Posted in Opini Gw - Politik dan Masyarakat | Tagged , | Leave a comment

Ada Mentari dan Rembulan dicerahnya hariku

“Lapor pusat, ini tahun ke 28 aku berkelana di kehidupan angkasa luar mencari benda langit kosong tak berpenghuni untuk kutinggali selamanya” kumulai laporan hari ini. “Sesuai petunjukmu setahun yang lalu, aku masih mengorbit diseputaran tata surya, masih menanti mentari meredupkan cahaya yang membutakan itu dan menemukan jalan menujunya. Masih menunggu mendinginnya permukaan yang membara agar dapat ku daratkan pesawatku” laporan yang sama selalu terucap  selama setahun ini.

Setahun yang lalu aku menerima pesan tersandi dari pusat, memang sulit untuk menterjemahkannya, walau aku tahu bahwa pesan tersebut disandi menggunakan algoritma Ilahi, tetapi aku tak tahu yang mana kuncinya. Ketika mencoba menganilisanya dengan teknik brute force attack, Aku berhasil mendapatkan sebuah pesan terbaca. Pesan itu seakan memerintahkanku untuk mendaratkan pesawat ini ke benda langit yang bernama mentari, tetapi kini aku ragu bahwa pesan terbaca itu adalah arti pesan tersandi yang sesungguhnya. Mungkin saja secara kebetulan aku menggunakan kunci yang salah, namun tetap mendapatkan pesan terbaca, dan mungkin seharusnya bukan mentari yang kutuju.

“Pusat, bisakah kau kirimkan kembali petunjuk kemana harus kudaratkan pesawat ini. Tetapi kumohon agar kau gunakan algoritma sandi yang lebih sederhana, karena lembar daftar kunci **untuk algoritma Ilahi** yang kau berikan sewaktu aku lepas landas telah rusak, tergerus usia, termakan panas ruangan penyimpanan yang mulai sesak dengan catatan-catatan kesombongan, keangkuhan dan kealphaanku melapor padamu.” Rajukku meminta bantuan sekali lagi. Akhir-akhir ini aku jarang menerima pesan dari pusat, hanya bunyi bising dispeaker dan deretan binary tak berarti dan tak berpola **Mungkin juga itu tersandi, tapi aku belum bisa membukanya sampai saat ini** yang tampil dalam layar hatiku.

“Baiklah pusat, sudah waktunya aku melaporkan kejadian-kejadian kali ini” Walau tidak sesering dulu, tapi aku masih selalu menyampaikan, mengadu ke pusat dan tetap meminta arahannya **Walau selalu speaker bising yang kuterima sebagai balasannya**. “Hari ini aku melihat sebuah benda langit, permukaannya tak terlalu rata **Bila dilihat dari jauh** mungkin akan sulit bagiku mendaratkan pesawat rombeng ini di sana. Benda itu tak bercahaya, mungkin akan sulit bagiku untuk mendekatinya bila tak dibantu sinar dari berjuta bintang lain. Tetapi sepertinya Rembulan **Begitu nama benda langit itu** bisa menjadi tempat ku memulai misi yang kau berikan, membuat sebuah koloni bangsa kita” kulaporkan semua kejadian yang kutemui beberapa hari **mungkin minggu** ini.

“Aku masih mengharapkan arahan, petunjuk dan saran darimu, sekecil apapun. Sampai saat itu, aku akan terus mengorbit di tata surya, sembari memperhatikan mentari dan mengamati rembulan. Berharap mentari meredupkan cahayanya atau rembulan mulai sedikit bersinar agar aku bisa menentukan arah jalan mendekati mereka. Aku akan terus mengorbit di tata surya, sembari mencari daratan datar di permukaan rembulan, atau lahan dingin pada mentari untuk tempat aku mendaratkan pesawat ini.”

Kini, ada mentari dan rembulan dicerahnya hariku, tetapi yang mana yang akan menjadi tempatku berkoloni?

Posted in Pribadi | Tagged , , , , , , | 1 Comment

Cintaku RTO (Request Time Out)

Keyboard rinduku terus tertekan dihuruf-huruf namamu, memaksa CPU di otak selalu memikirkanmu, hingga memori di RAM dan Hardisk dalam hatiku-pun hanya berisi kisahmu, namun mengapa ping cintaku selalu RTO?

P.S: Gara-gara Imam Cintanya Hariez Gw jadi tau ada “Ekspresi Puisi Cinta Satu Bait” , dan akhirnya Gw ikutkan puisi ini dalam lomba itu.

Posted in Pribadi | Tagged , , , | 4 Comments

Kolam Lumpurku

Ketika ku bermain-main dipinggir kolam lumpur, seberapa berhati-hatinya langkah yang ku ambil, jatuh bukanlah hal yang muskil. Pematang itu terlalu sempit, licin dan gembur. Takkan pernah sanggup menahan berat tubuhku yang kian hari kian bertambah, seiring bertambahnya dosa yang ku lakukan. Setinggi apapun sepatu boot yang ku kenakan, jelas telapak kaki kan tersentuh liat lumpur, karena boot pun berlubang. Tetapi sebotol air darimu selalu memberiku cambuk, untuk segera bangkit dari jatuh, membuka sesaat boot dan jaketku, lalu menyapu noktah itu sebelum mengering. Kembali mengenakan segala perlindungan, dan mulai melangkah lagi tanpa rasa ragu, karena kutahu kau kan selalu memberiku botol penuh air. Terimakasih kawan atas dukunganmu.

Posted in Pribadi | Tagged , , | 3 Comments

Berhenti membuang waktu

Cukup!!! sudah cukup buat Gw menanti yang gak pasti, bahkan gak mungkin.
Mengalihkan segala perhatian hanya untuk satu hal kecil.
Bermain-main dengan imajinasi dan dunia khayal.
Mencoba bermimpi dikala mentari terik menyinari.

sudah cukup buat Gw melupakan segala suka,
Mempersempit pintu dari arah mata angin lainnya,
Mengkorupsi waktu disegala kegiatan,
mengabaikan tanggung jawab dan pengharapan orang.

Sekarang, sudah waktunya Gw kembali lagi,
memperhatikan segala hal yang besar dan kecil,
kembali bekerja dalam dunia nyata
bermunajat dimalam hari dan ikhtiar siangnya.

Sekarang, sudah waktunya Gw beri porsi yang sama untuk semua suka,
membuka semua pintu sama lebarnya,
berhenti membuang waktu, dan
melakukan kegiatan sesuai waktunya..

Gw sudah membuang-buang waktu,
maaf, Gw kini berhenti membuang waktu.

Posted in Pribadi | Tagged , , , | 2 Comments

Kuingin menjadi imam di shalat-shalat malammu

Bertakbir menuntunmu melakukan segala gerak shalat.
Tegas, penuh tujuan, menjalani setiap rukun shalat.
Seperti itu ku kan menuntunmu dalam kehidupan.
Bila aku menjadi imam di shalat-shalat malammu.

Tegur aku, dengan tepukan belakang telapakmu.
Tak perlu keras, asal cukup kudengar dan kusadari.
Seperti itu kau kan mengingatkan segala kesalahan dalam hidupku.
Disaat aku menjadi imam di shalat-shalat malammu.

Cium telapak tanganku, kan kukecup keningmu.
Tak perlu nafsu, hanya rasa saling menghargai dan menyayangi.
Seperti itu kita kan selalu menjalani hidup.
Setelah aku menjadi imam di shalat-shalat malammu.

Ku tak mau wudhu kita luntur setelah ciuman itu,
karena kuingin kau tak lagi haram bagiku,
disaat aku menjadi imam di shalat-shalat malammu.
Kini kubertanya, maukah kau jadikan aku imam di shalat-shalat malammu?

PS. Puisi ini dipersiapkan buat calon istri Gw :D

P.P.S: Iseng-iseng Gw ikutin “Parade Puisi Cinta“ 

Posted in Pribadi | Tagged , , , | 22 Comments

Menjadi pendengar yang baik.

Salah memang kalo mulut turut terbuka, disaat mereka mulai berkata.
Karena telinga kan terhalang bibir keangkuhan, menutup suara mereka yang telah membahana.
Karena mereka tak butuh petuah, sekedar tempat sampah cukuplah bagi mereka.
Karena mereka sudah dewasa, pendengar yang baik cukuplah bagi mereka.

Rasa peduli, empati dan simpati, alasan apa lagi yang ada dihati?
Bersilat lidah menyalahkan mereka,  berdalih nasehat, anjuran dan wejangan.
Karena mereka tak butuh petuah, sekedar tempat sampah cukuplah bagi mereka.
Karena mereka sudah dewasa, pendengar yang baik cukuplah bagi mereka.

Buka mata dan lihat tingkahnya.
Kembangkan daun telinga dan dengar katanya.
Karena mereka tak butuh petuah, sekedar tempat sampah cukuplah bagi mereka.
Karena mereka sudah dewasa, pendengar yang baik cukuplah bagi mereka.

Ikat tangan… biarkan mereka menari.
Tutup mulut… mereka butuh keheningan.
Karena mereka tak butuh petuah, sekedar tempat sampah cukuplah bagi mereka.
Karena mereka sudah dewasa, pendengar yang baik cukuplah bagi mereka.

Maafkan aku yang sombong menasehati.
Maafkan aku yang angkuh menyalahkan.
Karena kalian tak butuh petuah, sekedar tempat sampah itulah aku.
Karena kalian sudah dewasa, semoga aku dapat menjadi pendengar yang baik.

Posted in Others, Pribadi | Tagged , , , , , | 16 Comments

Malu

Pernahkah kau dipermalukan dirimu sendiri?
Mengenakan pakaian yang kau kata norak?
Berhias intan imitasi yang kau anggap murahan?
Jangan bersedih, Karena akupun pernah…

Pernahkah kau dipermalukan dirimu sendiri?
Mengatakan iya pada hal yang selalu kau tolak?
Melakukan semua yang selalu kau larang?
Jangan menyendiri, karena akupun pernah

Aku pernah mempermalukan diriku sendiri
Melanggar prinsip hidup yang kutancap dihati
Mendustai kata hati, dan menutup mata hati
Kini ku bersedih, karena aku pernah…

Aku pernah mempermalukan diriku sendiri
Mengkhianati sahabat, melupakan janji
Menikmati ego, Melupakan pertiwi
Kini ku menyendiri, karena aku pernah…

Malu aku pada diriku..
Kukutuk diriku karena tingkahnya
Kuhina diriku karena sikapnya
Dan ternyata aku hanya seorang pengecut hina

Malu aku pada diriku..
Karena aku masih berani meminta pada-Nya
Menutup semua aib dan menunda siksa..
Dan ternyata aku hanya berani pada-Nya

Posted in Others, Pribadi | Tagged , , , | 3 Comments

Andai cintaku padamu bagai cintaku pada Tuhanku

Andai cintaku padamu bagai cintaku pada Tuhanku
Ku kan rela membagimu dengan yang lain
jangankan seorang, seluruh dunia memilikimu pun ku rela
bahkan kuingin semua orang merayumu

Andai cintaku padamu bagai cintaku pada Tuhanku
Ku takkan berharap balasan cintamu
Karena kutahu, kau selalu mencintaiku apa adanya
bahkan disaat aku tak lagi mencintaimu

Tapi cinta seperti cintaku pada Tuhanku hanya ada satu
Dan Aku tak rela membaginya untukmu
Cintaku padamu hanya setetes air di lautan cintaku pada Tuhanku
Cintaku padamu hanya untuk melengkapi cintaku pada Tuhanku

Posted in Others, Pribadi | Tagged , , , | 3 Comments

Gak jadi merdeka

Benderaku Berkibar..
Layaknya penguasa langit,
Bebas bergerak menjajah angkasa
Inikah mau kalian?

Lagu Kebangsaannya menggema
Seakan smua telinga miliknya
Menutupi suara tangis anak jalanan
Inikah yang seharusnya?

MERDEKA!!!
Merdeka artinya bebas..
Bebas dari segala tuntutan kewajiban
Bebas menjajah yang lain
Bebas merebut harta mereka
Inikah yang kalian maksud?

Karena diantara kebebasan kita,
pasti ada keterbelengguan mereka.
Karena untuk kemerdekaan kita,
pasti ada yang terjajah.

Jangan kebablasan kawan,
Merdeka masih ada aturannya.

Posted in Opini Gw - Politik dan Masyarakat, Pribadi | Tagged , , | Leave a comment